Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Seks Tangisan Cintaku Saat Di Genjot Anal

Cerita Seks Tangisan Cintaku Saat Di Genjot Anal

 Aopok.com - Lirikan iri terlihat di wajahku. Hari itu hari valentine, di mana biasanya insan memadu cinta, menyingkirkan duka dan dendam. Semua toko bunga diwarnai oleh bunga rose merah. Tiap pasang berjalan dengan bergenggaman tangan erat. Tetapi kenapa ada perasaan iri yang tidak lari dari hatiku, aku hanya merasa dunia tidak adil. Kenapa hanya orang lain yang boleh merasakan itu semua?


Pesta valentine kali ini meriah sekali, dengan sebuah perayaan sederhana dan acara parodi yang lucu aku merayakan bersama dengan teman-teman. Perayaan ini diadakan oleh sebuah organisasi student indonesia di sini. Mereka yang jauh dari keluarga saling berkumpul dan bersenang-senang sembari mencari kenalan baru. Pada saat itu aku hanya mengenal beberapa di antara mereka saja. Hanya bermodal undangan di email yang kuterima 2 hari sebelumnya aku datang dan ikut bergabung. Mama ikut senang melihat aku ikut kegiatan mereka. Mama ikut meminjamkan gaun yang langsung kutolak. Aku ingin tampil sederhana dan seadanya. Hanya dengan jeans dan sweater merah muda aku merasa tidak berbeda dengan teman-teman yang lainnya.

Pada saat aku datang seorang diri aku menangkap adanya pandangan yang aneh dari ujung, seorang pemuda yang berlipat tangan dan duduk seenaknya tidak melepaskan pandangannya kepadaku. Aku sudah beberapa kali salah tingkah, merasa malu dan takut. Beberapa temen wanita yang sudah kukenal menyambutku dengan senang, sambil menarik tanganku agar aku duduk di sebelah mereka. Tidakk, dalam hati aku tidak ingin menjauhi pemuda itu. Tiba-tiba aku kehilangan bayangannya. Dia hilang entah kemana, hingga waktu perayaan akan dimulai tidak kutemukan dia lagi. Perayaan pun dimulai dan tiba tiba aku disadarkan oleh sebuah paduan suara merdu yang diiringi piano. Dia berada di sana. Dia dengan tubuhnya yang tinggi berada di antara orang yang memadukan suaranya. Selama perayaan itu aku merasa mimpi. Kami saling bertukar pandang dan senyum. Biarpun dia di depan dan aku duduk di belakang tapi aku merasa kalo dia pun bisa melihatku dengan jelas. Demikian denganku, setiap tarikan napasnya bisa kurasakan, setiap nada yang dia nyanyikan pun ikut kunyanyikan. Selesai perayaan, di saat aku mengambil minum dia pun mendekati aku.



“Hi, anak baru yah? Baru datang ke Jerman?”
Aku hanya menjawab dengan senyum simpul. Dia pun melanjutkan lagi,
“Gue Arry, loe siapa namanya?”
Pada saat itu teman-teman yang lain sudah datang mendekati kami, hingga kesempatan itu pun hilang. Tapi di matanya aku bisa menangkap pesan dari Arry, dia menunjuk teras yang terbuka. Akhirnya ketika ada kesempatan akupun keluar ke teras dan melihat ada Arry di sana. Dia menjulurkan tangan kanannya sambil tersenyum,
“gue Arry, baru sekarang bisa resmi kenalan, elo siapa?”. Lanjut baca!


Kisah Seks Takeshi Castle XXX 2

Kisah Seks Takeshi Castle XXX 2

 Piool.com - Seusai semua peserta diuji dari rintangan “jembatan manusia”, Sang Kaisar berkomentar lagi setelah menyaksikan dengan terbengong-bengong dan menggeleng-gelengkan kepala saja sepanjang acara itu.

“Ck, ck, ck.. benar-benar seru, kamu memang panglimaku yang hebat, bisa merancang rintangan yang heboh”, puji Sang Kaisar pada panglimanya.
“Terima kasih Yang Mulia, saya tak mungkin menghadirkan rintangan tanpa pengujian yang seksama”, jelas Sang Panglima dengan bangga.


“Jadi memang sudah matang persiapannya ya?”, tanya Sang Kaisar.
“Sangat matang Yang Mulia, bahkan minggu lalu saya sudah coba sendiri melewati jembatan manusia itu”, jawab Sang Panglima.
“Apa?”, tanya Sang Kaisar agak kaget.
“Iya yang mulia, saya sendiri nggak sampai lewat setengah dari jembatan itu, setelah itu masih harus istirahat 3 hari 3 malam, semua itu demi Benteng Takeshi”, kata Sang Panglima.
“Wah, kamu cari-cari alasan saja agar tak kuhukum karena bolos kerja. Tahukah kamu bahwa bendahara Benteng Takeshi sudah kuminta untuk memotong gajimu!”, kata Sang Kaisar.
“Mm.., Maaf Yang Mulia, bulan lalu Komandan Sakurata juga bersenang-senang dengan para wanita di lokalisasi belakang Benteng Takeshi selama 5 hari hingga bolos kerja, tapi gajinya tidak dipotong”, protes Sang Panglima.
“Bego kamu! Dia tidak kupotong gajinya karena bersenang-senangnya juga mengajak aku sedangkan kamu bersenang-senang sendiri!”, kata Sang Kaisar sambil kembali memukul-mukulkan kipas yang dibawanya pada kepala panglimanya itu. Kali ini Sang Panglima hanya menggerutu dalam hati dan tak berani menentangnya lagi.

“Oke, sekarang bagaimana laporannya dari rintangan tadi?”, tanya Sang Kaisar.
“Yang mulia, rintangan tadi menyisakan 4 peserta, 2 pria dan 2 wanita”, jawab Sang Panglima.
“Bagus! Selanjutnya rintangan apa lagi yang harus dihadapi oleh sisa peserta itu?”, tanya Sang Kaisar.
“Setelah ini mereka akan dihadapkan oleh sebuah rintangan yang lebih berat lagi Yang Mulia”, jawab Sang Panglima.
“Begitu ya! Tolong kamu jelaskan karena pemirsa pasti juga ingin tahu!”, kata Sang Kaisar.
“Begini Yang Mulia, rintangan ini telah kami rancang berdasarkan konsultasi para punggawa Benteng Takeshi dengan seorang ahli bergelar doktor dalam bidang pornografi dan baru-baru ini menjadi penulis di situs sumbercerita.com”, jelas Sang Panglima.
“Wah.., menarik juga, itu juga situs favorit saya, hampir tiap malam sebelum tidur saya pasti menyempatkan membaca 10-20 cerita di dalamnya”, kata Sang Kaisar.
“Wah, rupanya para pemirsa sudah tidak sabar lagi, kita lanjutkan saja pada rintangan berikutnya, yang pasti lebih seru”, kata Sang Kaisar.
“Baik Yang Mulia, mari kita saksikan saja!”, jawab Sang Panglima.

Babak Penyisihan Terakhir

Pada rintangan ini para peserta diharuskan untuk memberikan kepuasan sex pada lawan mainnya. Peserta diberi waktu selama 3 jam untuk memuaskan sebanyak-banyaknya lawan mainnya. Lawan mainnya telah disiapkan oleh punggawa Benteng Takeshi dan bisa dipilih oleh peserta. Bagi calon lawan main yang telah terpilih oleh seorang peserta, tak boleh dipilih lagi oleh peserta lainnya.



Peserta dituntut untuk jeli dalam memilih lawan mainnya karena sebagian dari mereka ada yang impoten, frigid, dan ada pula yang memiliki penyimpangan seksual. Juri dari permainan ini adalah lawan main dari peserta itu sendiri. Karena setiap kali peserta menyudahi permainan seksnya dengan lawan mainnya, maka lawan mainnya akan memberinya nilai antara 1 sampai dengan 5. Pemain dengan nilai tertinggi akan dianggap sebagai pemenang. Jadi tak hanya kuantitas tapi kualitas permainan seks peserta juga jadi ujian bagi peserta. Lanjut baca!


Kisah Seks Takeshi Castle XXX 1

Kisah Seks Takeshi Castle XXX 1

 Aopok.com - Acara Benteng Takeshi (Takeshi Castle) sudah tak asing bagi pemirsa TV di Indonesia ataupun di beberapa negara lainnya. Acara berunsur permainan (game) asal Jepang itu sudah sangat populer di negara asalnya. Dalam acara tersebut para peserta permainan tersebut diharuskan melewati setiap rintangan sebelum akhirnya melawan langsung sang kaisar benteng Takeshi pada rintangan akhir. Dalam cerita saya, Benteng Takeshi X adalah cerita mirip acara aslinya tapi semua rintangan permainannya mengandung unsur sex.


******

Sebelum acara dimulai, Sang Kaisar Benteng Takeshi sempat mengobrol santai dengan panglima perangnya di depan para punggawa, prajurit dan selir-selir yang cantik-cantik.
“Bagaimana persiapan menghadapi para penantang Benteng Takeshi?”, tanya kaisar pada panglimanya.
“Beres Yang Mulia, meskipun jumlahnya 100 lebih tapi kami semua sudah siap!”, jawab panglima dengan tegas.
“Hei, jangan ngomong beres-beres saja!”, tukas sang kaisar.

Babak Penyisihan Pertama

Telah terdaftar 116 peserta. Semua peserta yang ingin lolos harus dapat menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan soal sex yang diberikan oleh para punggawa Benteng Takeshi. Jumlah peserta yang lolos ke babak selanjutnya ternyata masih 74 orang.

Babak Penyisihan ke-2

Berupa omba mencari kondom dengan merek yang telah ditentukan oleh punggawa Benteng Takeshi. Hal ini tidak mudah karena pilihan kondom yang ada dalam baskom yang disediakan untuk tiap peserta jumlahnya banyak dan bekas dipakai. Babak ini hanya menyisakan 22 peserta untuk melaju ke babak selanjutnya.

Babak Penyisihan ke-3

Babak ini mengharuskan peserta untuk menyebut 10 posisi sex yang dapat dilakukan manusia dalam waktu sesingkat-singkatnya. Babak ini hanya meloloskan 10 peserta tercepat dan 4 diantaranya adalah wanita.

Komentar Sang Kaisar, “Wah rupanya jumlah peserta kali ini dibatasi 10 orang, tapi ada 4 wanita yang lolos untuk menghadapi rintangan berikutnya, sungguh menakjubkan. Apalagi ke empat peserta wanita itu kelihatannya cantik-cantik dan seksi. Mmm.. Panglima.. mana sang panglima?”.



Rupanya komentar Sang Kaisar tak didengarkan oleh panglima karena lagi sibuk memelototi tubuh 4 peserta wanita yang telah lolos sambil menggosok-gosok bagian depan kimononya di daerah kemaluannya.
“Ehh.. Ada apa Yang Mulia?”, jawab sang panglima tergopoh-gopoh.
“Kamu ini memang panglima kurang ajar, diajak ngomong Sang Kaisar malah sibuk sendiri! Kalau para pemirsa tahu aku bisa malu, tahu..!”, bentak Sang Kaisar sambil memukulkan kipas yang dipegangnya pada kepala panglima. Lanjut baca!


Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 3

Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 3

 Topoin.com - Aku benar-benar menggigil saat itu. Ku rasa kulit tubuhku mulai meriang, panas dingin, seperti ketika menjelang sakit influenza. Bahkan aku mulai nampak berkeringat di sekujur tubuhku, di tengah dinginnya malam di musim penghujan yang sebenarnya terasa menggigit. Benar-benar ujian kejiwaan sekaligus santapan bagi fantasi liarku yang pertama. Aku mengatupkan gigi rapat-rapat, berusaha menyembunyikan deru nafasku yang memburu, yang sebenarnya kedua lubang hidungku, telah tak mampu menjadi saluran bagi derasnya aliran udara yang keluar masuk melebihi kapasitas normalnya. Dan parahnya lagi, oksigen yang kuhisap pun seperti bercampur bara, terasa panas dan menyesakkan.


Berkali-kali, aku menelan ludah, berusaha membasahi kerongkonganku yang terus menerus menjadi kering, karena sapuan angin panas yang semakin tak teratur ku keluarkan, kadang lewat hidung, kadang lewat mulut, hingga membuatku sering tersengal karenanya. Barangkali ini yang di sebut tersiksa tapi nikmat. Kadang, memang batas antara siksaan dan kenikmatan sangatlah tipis.

Setelah agak mampu menguasai diri, meski tak sepenuhnya, kembali perhatianku ku tumpahkan ke aktivitas Nenek. Tampaknya, sejenak ia mengurangi intensitasnya, bahkan, perlahan-lahan Ia bangkit, membetulkan kainnya, dan berjalan gontai meninggalkan kamar.

Dari dalam kamar ku dengar Dia tengah bercakap dengan Pak Dhe, yang rupanya belum bisa tidur dan kebetulan berpapasan dengan nenek, yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rupanya Nenek tadi kebelet pipis. Aku tak tahu persis apa yang mereka perbincangkan, tetapi ini adalah kesempatan bagiku, untuk segera mengakhiri rasa sakit di selangkanganku yang terjepit oleh kain celana pendekku sendiri.

Cepat-cepat, kubuka celanaku, dan segera ku sembunyikan di bawah bantalku, Penisku yang masih tegang belum mau mengendor, meski telah ada jeda pertunjukan. Tapi itu kini tak lagi menyiksaku. Nenek datang beberapa saat, setelah aku memposisikan diri seperti semula, sama seperti saat ia pergi meninggalkan kamar. Sekilas, Ia memandang, posisi tidurku, dan, seperti tak terjadi apa-apa, mungkin setelah meyakinkan dirinya, bahwa aku tak mengetahui apa yang di lakukannya.

Wah.. kalau yang ini siksaan tahap kedua, aku jadi begitu tegang menunggu episode kedua. Sementara Nenek, rupanya belum ada keinginan melanjutkan aksinya. Aku sendiri sebenarnya sudah agak mengantuk, tapi, demi sesuatu yang bisa bikin aku panas dingin, aku rela menunggu.

Theng.. Theng.. Theng.. Jam dinding berdentang tiga kali, pertanda sudah mendekati subuh, aku gelisah dalam penantian menunggu aksi spektakuler berikutnya. Aku pikir, setelah sekian lama tak ada lagi pertanda aksi berlanjut, aku memutuskan mengakhiri petualangan mengintipku. Tapi.. tiba-tiba di tengah deraan kantuk yang begitu hebat, T e r j a d i!

Perlahan.. tangan nenek membuka ikatan kemben yang di kenakannya. Aku bisa menebak kelanjutan dari babak pertama ini, tangan itu akan perlahan-lahan menelusup ke sela-selaselangkangannya, berhenti beberapa saat di situ, mencari sesuatu, kemudian ada gerakan sedikit menyentak, dan tangan itu di dekatkan ke lobang hidungnya, di cium di kibaskan dan kembali ke ritme semula.

Tapi kali ini, aku tak mau terjebak ke dalam rutinitas menjemukan seperti yang sudah ku lihat sebelumnya, sebab yang bikin dag dig dug sebenarnya tak lebih karena rasa keinginan tahuan belaka. Aku mulai berinisiatif, karena timing nya memang tepat. Menjelang fajar seperti ini, ternyata, bukan aku saja yang terserang kantuk, tak terkecuali Nenek!Kewaspadaannya mulai menurun, karena ketika kuamati, gerakan tangannya makin lama semakin lambat, bahkan sesekali, dengkurnya mulai terdengar, meski hanya seperti suara pipa tersapu angin, karena gigi nenek memang telah habis. Lanjut baca!


Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 2

Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 2

 Aopok.com - “Jack..” ujarnya lirih, “Kamu tahu kenapa Mbak menyumpal kain ke Beha Mbak?”

Aku menggeleng tanda tak tahu. “Itu karena Mbak merasa kesakitan sebab susu Mbak baru tumbuh.”

Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Napasnya terdengar teratur, terbukti dari helaan di dadanya yang turun naik dengan lembut. Untungnya suasana sangat mendukung hingga semua penghuni rumah tak mengganggu kami lagi. Mungkin mereka sibuk dengan proyek ‘mengatasi kebocoran’ atau memang telah terkurung di kamar masing-masing, menikmati dinginnya musim penghujan di penghujung bulan januari. Yang jelas aku makin tak perduli. Ku dekatkan tubuhku ke bibir ranjang di mana Mbak Sekar berada.


“Dingin ya Mbak” gumamku mencari dalih agar aku di dekap Mbak Sekar, hal yang senantiasa ia lakukan bila melihatku agak menggigil selepas di mandikan. Benar dugaanku, Mbak Sekar, segera beringsut menggapai tubuhku yang memang kurasa agak mulai merinding terserang hawa dingin. Kedua tangannya mulai bergerak merangkul bahuku, dan menekan tubuh mungilku ke tubuhnya. Tapi.. Lagi-lagi..

“Auh.. Sakit!”
“Wah.. Kesenggol lagi ya Mbak?” tanyaku sambil mencoba bangkit, meneliti tangan mana yang telah kurang ajar menyakiti payudara Mbak Sekar. Di sela nyeri menahan sakit. Mbak Sekar tersenyum melihat kelakuanku.
“Essh.. Jangan tangannya yang disalahkan, tapi kepala jack yang telah menyenggolnya,” ucapnya sambil mendesis lirih menahan nyeri.

Rasa penasaran menuntunku berani memperhatikan payudara Mbak Sekar lebih dekat. Meski hampir sepenuhnya terbuka, akibat insiden tadi, terus terang aku tidak bisa melihat dengan jelas. Biang keladinya tentu saja sinar lampu teplok yang tak seterang lampu jaman Sekarang. Jadi meski sudah memicingkan mata, tetap saja obyek yang sedang ku amati tampak kabur.

Aku jadi penasaran, ingin tahu seperti apa penyakit yang di derita oleh Mbak Sekar. Makanya aku langsung mengambil inisiatif mendekatkan lampu teplok di dinding ke arah meja dekat ranjang Mbak Sekar. Nah, ini baru jelas, bahkan urat kehijauan di dekat lingkar putingnya nampak sangat atraktif membentuk kali grafi alamiah.

“Ehh.. Jangan terlalu dekat, nanti rambut Mbak kebakar,” tentu saja ucapannya hanya bercanda, tapi tetap saja aku kaget di buatnya, hingga tak kusadari aku secara reflek menjauhkan lampu teplok itu dari meja. Tapi rasa penasaran yang belum tertuntaskan, membuatku enggan menjauhi tubuh Mbak Sekar.

“Masih terasa sakit ya Mbak?” tanyaku, yang tanpa meminta persetujuan darinya mencoba meraba benjolan di dada Mbak Sekar.
“Aduh.. bukan begitu cara memegangnya,” kembali Mbak Sekar menjerit lirih saat pangkal putingnya teraba jariku. Aku memang kurang sabaran saat berusaha menjangkau payudaranya. Ku pikir toh tak ada bedanya kalau aku juga lagi memegang ‘payudaraku’ sendiri.

“Jack, anak perempuan dengan anak laki-laki berbeda. Kalau Mbak punya payudara, kamu hanya punya puting susu, yang tidak akan sebesar punya Mbak nantinya,” sambil berkata, tangannya menjangkau tubuh bagian depanku, tepat di dadaku, dan dengan lembut membelai puting susuku yang masih tertutup oleh kaos bergambar tokoh kartun Flash Gordon. Di perlakukan demikian, aku menggelinjang kegelian karena, jangankan puting susuku yang di raba, tangan, kaki, perut atau bahkan rambut di kepalaku, akan terasa sangat geli jika tersentuh orang lain. Reflek, Mbak Sekar mencoba menutupi mulutku dengan telapak tangannya, begitu melihat gejala aku nyaris terpingkal karena kegelian.
“Psst, jangan ketawa.. berisik,” bisiknya sambil berusaha menenangkanku. Lanjut baca!


Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 1

Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 1

 Topoin.com - Entah harus dari mana memulainya, yang jelas, sebagai penggemar baru situs 17Tahun, aku tak tahan juga, memendam cerita seputar pengalaman seks yang pernah ku alami, sejak aku di lahirkan hingga usiaku genap mencapai 30 tahun.

Meski bukan barang baru yang ingin ku tuturkan, setidaknya bisa sedikit meluruhkan rasa sesal dan kekalutan yang selama ini terus menteror nurani. Mungkin terdengar agak kampungan, atau ketinggalan jaman barangkali, tapi satu hal yang pasti perang batin ini nyaris senantiasa menggelayut di dalam kalbu.


Pembaca sekalian, mohon maaf jika dalam penyampaian cerita ini, ada aroma ketidak jujuran dan pengkhianatan atas nama keluarga, kebaikan dan harga diri.

*****

Angin berhembus kencang di padang rumput yang ramai oleh celoteh nakal bocah-bocah kecil yang riuh menggiring ternak-ternak piaraan, di dusun kecil di pelosok Bojonegoro, sebuah kota kabupaten di Jawa Timur. Aku, sebut saja namaku Jack, dengan bertelanjang dada dan kaki tanpa alas sandal, larut dalam kegembiraan bersama teman-teman kakak-kakak sepupuku. Aku yang terkecil di komunitas itu. Yang mampu ku ingat, usia ku baru 5 tahun saat itu. Sementara saudara-saudaraku yang lain, setidaknya 2 atau 3 tahun lebih tua dariku.

“Le, ayo ndang bali!” terdengar teriakan kakak perempuanku Sekar, memintaku bergegas untuk pulang.

Kami bersaudara, sangat akrab antara yang satu dengan yang lain. Sekar adalah anak tertua dari Bu Dhe, kakak ibuku. Ia tergopoh-gopoh menghampiriku, sambil berusaha menjangkau lengan kecilku yang licin oleh tetesan peluh.

“Ada apa kog mesti buru-buru pulang?” kataku menggerutu, sambil berusaha untuk mengeraskan pijakan kaki, pertanda aku enggan berlalu.
“Lho.. Opo durung ngerti yen Simbah arep tindak menyang Semarang?” [“Lho, apa belum tahu kalau Nenek mau pergi ke Semarang?”-pen.]
“Enggak..” jawabku asal saja, karena aku masih kesal saat di paksa pulang bersama Kak Sekar.

Sebetulnya, aku sudah tahu rencana Nenek yang hendak pergi ke Semarang untuk menengok salah satu cucunya yang ada di kota itu. Kebetulan, saat itu ada libur satu minggu dari Sekolah, setelah usai ulangan catur wulan ke 2. Tentu saja maksud penjemputanku adalah untuk diajak serta oleh Nenek pergi menemaninya ke Semarang.

“Males Mbak, aku penginnya main-main sama Mas Yogi, Mas Simin dan teman-teman yang lain,” rontaku dengan lagak acuh tak acuh setengah memohon, agar aku di perkenankan tidak mengikuti Vacancy [begitu biasanya Nenek menyebut liburan-pen. ].

Tampaknya usahaku tak ada hasil, mengingat Mbak Sekar masih saja tetap menggengam lengan ku, bahkan kurasakan agak lebih kencang dari sebelumnya, pertanda itu adalah harga mati yang tak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Rasanya tak ada gunanya lagi meronta, yah.. Terpaksa deh pasrah.

Sesampai di rumah, ku lihat Nenek sudah tampak rapi bersiap untuk segera pergi. Dari kejauhan, nampak Ia sibuk mempersiapkan barang-barang yang harus di bawa nanti. Aku tersenyum kecut, penuh rasa takut campur malu, saat suara nenek menggelegar memecahkan keheningan suasana. Lanjut baca!


Cerita Ngewe Gadis Anal Sex di Sukabumi

Cerita Ngewe Gadis Anal Sex di Sukabumi

 Tradingan.com - Waktu itu tahun 1988 saat saya baru saja menjadi mahasiswa semester satu sebuah perguruan tinggi komputer terkenal di Depok (di sebelah sebuah universitas negeri beken). Seluruh mahasiswa baru ketika itu diwajibkan ikut kegiatan Jambore dan Bakti Sosial (Jambaksos) yang diadakan di sebuah areal perkemahan di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Pada hari yang ditentukan, siang hari kami semua bersiap-siap di kampus tercinta, kemudian segera diberangkatkan dengan menggunakan beberapa truk bak terbuka. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga sampai empat jam, diakibatkan ada salah satu truk yang salah jalan sehingga semua truk lain harus diam menunggu sejenak di suatu tempat, akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Hari sudah mulai gelap.


Kulihat sekeliling kami. Uh, seram juga. Suasana sunyi dan gelap, maklum di daerah pegunungan yang tidak terlalu banyak penduduknya. Yang terdengar hanya suara mesin diesel truk yang cukup berisik. Akhirnya dengan konvoi truk satu persatu, kamu menuju tempat terbuka sebagai tempat parkir truk-truk yang kami tumpangi tersebut. Sudah sampai?, Belum! Kami masih harus berjalan kaki lagi beberapa jauh melalui jalan setapak untuk mencapai tempat di mana kami akan mendirikan tenda-tenda kami.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat kami memasuki areal perkemahan. Wah! Ternyata areal perkemahan sudah diterangi oleh beberapa lampu sorot yang cukup besar kekuatannya, yang sudah disiapkan oleh tim panitia yang telah mendahului kami ke sana satu hari sebelumnya. Mereka juga telah mendirikan dua buah MCK darurat. Satu khusus cewek dan satu khusus cowok. Dengan tubuh sedikit letih akibat perjalanan yang cukup jauh, kami pun mendirikan tenda masing-masing dengan bimbingan beberapa orang panitia. Satu tenda diisi oleh satu grup yang terdiri dari empat sampai lima orang. Cewek dan cowok pisah tenda. Katanya sih, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan! Saya memang sial, grup saya semuanya terdiri dari anak-anak yang belum saya kenal. Saya memang orangnya pemalu dan agak penakut, sehingga kurang cepat dalam bergaul. Setelah makan malam dan sedikit waktu istirahat, diadakan briefing mengenai jadwal kegiatan Jambaksos di hari-hari berikutnya. Briefing inilah satu-satunya acara yang diadakan pada hari pertama itu.

Tengah mengikuti briefing, tiba-tiba saya merasa ingin pipis. Saya ragu-ragu untuk turun ke MCK yang didirikan di tepi sungai yang mengalir dekat perkemahan kami. Saya yang memang dasar penakut, urung ke MCK tersebut. Habis jalan ke sana cukup jauh lagipula gelap sekali. Sementara untuk meminta dampingan salah seorang panitia malu rasanya. Akhirnya saya putuskan pergi ke balik semak yang sekelilingnya sepi dan agak tersembunyi serta agak jauh dari kerumunan orang-orang yang sedang mengikuti briefing.

Ah.., Lega rasanya setelah saya mengeluarkan seluruh isi kandung kemih saya. Mungkin kalau ditampung di botol, setengah liter ada. Saya memang menahan pipis dari waktu masih di daerah Bogor saat perjalanan menuju kemari. Apalagi ditunjang oleh dinginnya udara pegunungan di sini sampai ke sumsum tulang.

“Hi hi hi hi.., Hei, ngapain kamu di situ?!” Tampak dua orang panitia datang ke arah saya sambil cengengesan. Saya mengenal mereka, yang satu namanya Alfa (bukan nama sebenarnya), yang rambutnya sepundaknya sedikit kecoklatan, sedangkan yang rambutnya hitam pekat dipotong pendek adalah Pratiwi (juga bukan nama sebenarnya). Kedua-duanya tinggi tubuhnya hampir sama. Sama-sama cantik dan sama-sama sensual. Payudara merekapun termasuk berukuran besar dan membulat, dengan milik Pratiwi sedikit lebih besar ketimbang milik Alfa. Ini kelihatan dari balik kaus oblong cukup ketat yang mereka kenakan. Mereka berdua adalah anggota seksi P3K.
“Saya.., saya lagi buang air, Kak”, jawab saya dengan takut-takut. Tapi Alfa dan Pratiwi malah mendekati dan melompat turun ke tempat persembunyian saya yang letaknya sedikit di bawah areal perkemahan itu. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia