Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 2
Aopok.com - “Jack..” ujarnya lirih, “Kamu tahu kenapa Mbak menyumpal kain ke Beha Mbak?”
Aku menggeleng tanda tak tahu. “Itu karena Mbak merasa kesakitan sebab susu Mbak baru tumbuh.”Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Napasnya terdengar teratur, terbukti dari helaan di dadanya yang turun naik dengan lembut. Untungnya suasana sangat mendukung hingga semua penghuni rumah tak mengganggu kami lagi. Mungkin mereka sibuk dengan proyek ‘mengatasi kebocoran’ atau memang telah terkurung di kamar masing-masing, menikmati dinginnya musim penghujan di penghujung bulan januari. Yang jelas aku makin tak perduli. Ku dekatkan tubuhku ke bibir ranjang di mana Mbak Sekar berada.
“Dingin ya Mbak” gumamku mencari dalih agar aku di dekap Mbak Sekar, hal yang senantiasa ia lakukan bila melihatku agak menggigil selepas di mandikan. Benar dugaanku, Mbak Sekar, segera beringsut menggapai tubuhku yang memang kurasa agak mulai merinding terserang hawa dingin. Kedua tangannya mulai bergerak merangkul bahuku, dan menekan tubuh mungilku ke tubuhnya. Tapi.. Lagi-lagi..
“Auh.. Sakit!”
“Wah.. Kesenggol lagi ya Mbak?” tanyaku sambil mencoba bangkit, meneliti tangan mana yang telah kurang ajar menyakiti payudara Mbak Sekar. Di sela nyeri menahan sakit. Mbak Sekar tersenyum melihat kelakuanku.
“Essh.. Jangan tangannya yang disalahkan, tapi kepala jack yang telah menyenggolnya,” ucapnya sambil mendesis lirih menahan nyeri.
Rasa penasaran menuntunku berani memperhatikan payudara Mbak Sekar lebih dekat. Meski hampir sepenuhnya terbuka, akibat insiden tadi, terus terang aku tidak bisa melihat dengan jelas. Biang keladinya tentu saja sinar lampu teplok yang tak seterang lampu jaman Sekarang. Jadi meski sudah memicingkan mata, tetap saja obyek yang sedang ku amati tampak kabur.
Aku jadi penasaran, ingin tahu seperti apa penyakit yang di derita oleh Mbak Sekar. Makanya aku langsung mengambil inisiatif mendekatkan lampu teplok di dinding ke arah meja dekat ranjang Mbak Sekar. Nah, ini baru jelas, bahkan urat kehijauan di dekat lingkar putingnya nampak sangat atraktif membentuk kali grafi alamiah.
“Ehh.. Jangan terlalu dekat, nanti rambut Mbak kebakar,” tentu saja ucapannya hanya bercanda, tapi tetap saja aku kaget di buatnya, hingga tak kusadari aku secara reflek menjauhkan lampu teplok itu dari meja. Tapi rasa penasaran yang belum tertuntaskan, membuatku enggan menjauhi tubuh Mbak Sekar.
“Masih terasa sakit ya Mbak?” tanyaku, yang tanpa meminta persetujuan darinya mencoba meraba benjolan di dada Mbak Sekar.
“Aduh.. bukan begitu cara memegangnya,” kembali Mbak Sekar menjerit lirih saat pangkal putingnya teraba jariku. Aku memang kurang sabaran saat berusaha menjangkau payudaranya. Ku pikir toh tak ada bedanya kalau aku juga lagi memegang ‘payudaraku’ sendiri.
Terkait
“Jack, anak perempuan dengan anak laki-laki berbeda. Kalau Mbak punya payudara, kamu hanya punya puting susu, yang tidak akan sebesar punya Mbak nantinya,” sambil berkata, tangannya menjangkau tubuh bagian depanku, tepat di dadaku, dan dengan lembut membelai puting susuku yang masih tertutup oleh kaos bergambar tokoh kartun Flash Gordon. Di perlakukan demikian, aku menggelinjang kegelian karena, jangankan puting susuku yang di raba, tangan, kaki, perut atau bahkan rambut di kepalaku, akan terasa sangat geli jika tersentuh orang lain. Reflek, Mbak Sekar mencoba menutupi mulutku dengan telapak tangannya, begitu melihat gejala aku nyaris terpingkal karena kegelian.
“Psst, jangan ketawa.. berisik,” bisiknya sambil berusaha menenangkanku. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...