Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Ngentot Anal Tante Seks di Bukit Tandus 1

 Topoin.com - Entah harus dari mana memulainya, yang jelas, sebagai penggemar baru situs 17Tahun, aku tak tahan juga, memendam cerita seputar pengalaman seks yang pernah ku alami, sejak aku di lahirkan hingga usiaku genap mencapai 30 tahun.

Meski bukan barang baru yang ingin ku tuturkan, setidaknya bisa sedikit meluruhkan rasa sesal dan kekalutan yang selama ini terus menteror nurani. Mungkin terdengar agak kampungan, atau ketinggalan jaman barangkali, tapi satu hal yang pasti perang batin ini nyaris senantiasa menggelayut di dalam kalbu.


Pembaca sekalian, mohon maaf jika dalam penyampaian cerita ini, ada aroma ketidak jujuran dan pengkhianatan atas nama keluarga, kebaikan dan harga diri.

*****

Angin berhembus kencang di padang rumput yang ramai oleh celoteh nakal bocah-bocah kecil yang riuh menggiring ternak-ternak piaraan, di dusun kecil di pelosok Bojonegoro, sebuah kota kabupaten di Jawa Timur. Aku, sebut saja namaku Jack, dengan bertelanjang dada dan kaki tanpa alas sandal, larut dalam kegembiraan bersama teman-teman kakak-kakak sepupuku. Aku yang terkecil di komunitas itu. Yang mampu ku ingat, usia ku baru 5 tahun saat itu. Sementara saudara-saudaraku yang lain, setidaknya 2 atau 3 tahun lebih tua dariku.

“Le, ayo ndang bali!” terdengar teriakan kakak perempuanku Sekar, memintaku bergegas untuk pulang.

Kami bersaudara, sangat akrab antara yang satu dengan yang lain. Sekar adalah anak tertua dari Bu Dhe, kakak ibuku. Ia tergopoh-gopoh menghampiriku, sambil berusaha menjangkau lengan kecilku yang licin oleh tetesan peluh.

“Ada apa kog mesti buru-buru pulang?” kataku menggerutu, sambil berusaha untuk mengeraskan pijakan kaki, pertanda aku enggan berlalu.
“Lho.. Opo durung ngerti yen Simbah arep tindak menyang Semarang?” [“Lho, apa belum tahu kalau Nenek mau pergi ke Semarang?”-pen.]
“Enggak..” jawabku asal saja, karena aku masih kesal saat di paksa pulang bersama Kak Sekar.

Sebetulnya, aku sudah tahu rencana Nenek yang hendak pergi ke Semarang untuk menengok salah satu cucunya yang ada di kota itu. Kebetulan, saat itu ada libur satu minggu dari Sekolah, setelah usai ulangan catur wulan ke 2. Tentu saja maksud penjemputanku adalah untuk diajak serta oleh Nenek pergi menemaninya ke Semarang.

“Males Mbak, aku penginnya main-main sama Mas Yogi, Mas Simin dan teman-teman yang lain,” rontaku dengan lagak acuh tak acuh setengah memohon, agar aku di perkenankan tidak mengikuti Vacancy [begitu biasanya Nenek menyebut liburan-pen. ].

Tampaknya usahaku tak ada hasil, mengingat Mbak Sekar masih saja tetap menggengam lengan ku, bahkan kurasakan agak lebih kencang dari sebelumnya, pertanda itu adalah harga mati yang tak mungkin bisa ditawar-tawar lagi. Rasanya tak ada gunanya lagi meronta, yah.. Terpaksa deh pasrah.

Sesampai di rumah, ku lihat Nenek sudah tampak rapi bersiap untuk segera pergi. Dari kejauhan, nampak Ia sibuk mempersiapkan barang-barang yang harus di bawa nanti. Aku tersenyum kecut, penuh rasa takut campur malu, saat suara nenek menggelegar memecahkan keheningan suasana. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia