Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Istri Minta Penetrasi Ganda Dengan Pak Gun 1
Aopok.com - Sepulang dari Pandu, Bahar akhirnya mau mampir ke mess dan bertemu dengan Pak Gunawan. Aku sengaja mempertemukan mereka secara terbuka agar masing-masing pihak bisa saling mengenal. Aku berharap dapat tercipta suasana yang lebih enak di antara kami bertiga. Selanjutnya, terserah mereka masing-masing untuk menyikapinya.
Pak Gun yang sejak semula memang tidak mengetahui kedatangan Bahar, agak kaget juga ketika kuperkenalkan.
“Oo, jadi sudah sempat ke Pandu segala..” komentar Pak Gun ramah, dan berusaha untuk bersikap wajar. Namun kata ‘segala’ di akhir kalimatnya sepertinya punya arti tertentu; kalau tak bisa dibilang sebagai sindiran. Aku mencium ada sedikit perang urat syaraf di sini.
Bahar sendiri beberapa kali sengaja menunjukkan sikap yang agak demonstratif di hadapan Pak Gun. Sesekali ia memeluk bahuku erat-erat dan menatapku dengan pandangan mesra penuh arti. Seolah ingin menunjukkan bahwa aku adalah miliknya. Kulihat Pak Gun hanya senyum-senyum saja melihat sikap Bahar. Tapi dengan ekspresi wajahnya yang kebapakan, Pak Gun menunjukkan bahwa ia bisa ‘memaklumi’ itu semua.
Tampaknya sulit untuk ‘mempertemukan’ sikap kedua jantan yang tengah berseteru ini. Mungkin butuh waktu lama. Dan itu sepertinya tak bakalan terwujud. Karena tidak sampai seminggu lagi kegiatanku di Manado sudah harus berakhir.
“Yaah.., Bapak hanya bisa menyertai dengan doa saja,” kata Pak Gun ketika akhirnya tiba harinya kami harus berpamitan.
“Kalau ada kesempatan ke Manado, jangan lupa mampir ke sini. Kalau mau nginap juga boleh. Jangan sungkan-sungkan,” lanjutnya ramah kebapakan.
Bahkan Pak Gunawan berbaik hati mengantarkan kami sampai ke pelabuhan. Aku duduk di depan bersama dia yang menyopiri sendiri mobilnya. Sementara Bahar duduk di belakang sambil asyik merokok. Padahal ia tahu, mobil ini ber-AC. Tampaknya Bahar masih menunjukkan sikap ‘permusuhannya’ dengan Pak Gunawan.
Artikel Terkait
Satu hal yang akhirnya mencairkan segalanya. Ketika kami berjabat tangan untuk yang terakhir kalinya, tanpa diduga Pak Gun menyampaikan permintaan maaf secara langsung pada Bahar.
“Dik Bahar. Maafkan Bapak ya..” katanya dengan intonasi tertentu yang terdengar tulus dan jelas mengarah pada persoalan yang tengah mengganjal di antara kami bertiga.
Bahar sendiri tampak kaget dan jadi salah tingkah mendengar penuturan itu. Tapi beberapa detik kemudian tampak keikhlasan muncul di wajahnya. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...